Bab 51: Aku Bukan Datang Dari Ibukota
Sama seperti Luo Bing, nama Chen Bing juga mengandung kata “Bing”. Kepribadian mereka berdua memiliki kesamaan, sama-sama dingin bagaikan es, entah itu karena pengaruh nama mereka atau bukan.
Chen Bing mengenakan seragam polisi, tetap cantik seperti biasa, namun jika dibandingkan dengan beberapa hari lalu, ia tampak sedikit lebih pucat. Walaupun ia selalu terlihat percaya diri, aura dingin tetap menyelimuti dirinya.
Jika biasanya, saat Zhao Bing bertemu dengan polisi wanita secantik ini, mungkin ia akan menggoda beberapa patah kata, atau setidaknya menyapa dengan candaan, namun hari ini berbeda.
Suasananya benar-benar buruk, sehingga ia hanya melirik Chen Bing dengan tatapan dingin dan berkata, "Atas dasar apa kau menyuruhku turun dari mobil?"
"Ada yang melapor bahwa kau mengemudi dengan kecepatan tinggi, menyebabkan tabrakan beruntun di Jalan Qingshui. Aku sekarang curiga kau mabuk saat mengemudi, ikutlah denganku untuk membantu penyelidikan," ujar Chen Bing dengan suara dingin.
Mabuk saat mengemudi?
Zhao Bing menyeringai, "Menurutku kau hanya ingin melampiaskan dendam pribadi, kan?"
"Kuminta kau turun dari mobil," Chen Bing tetap memerintah dengan suara sedingin es.
Zhao Bing tak bergeming.
"Kuminta kau turun dari mobil," ulang Chen Bing untuk ketiga kalinya.
Zhao Bing mulai kehilangan kesabaran. Ia keluar dari mobil, menutup pintu dengan rapi, lalu bersandar di sana seraya menatap Chen Bing, "Aku tidak peduli apa alasanmu mencariku dan membuat masalah. Aku juga tidak tahu apakah benar-benar ada tabrakan itu. Tapi sekarang aku sedang sibuk. Temanku menghilang dan dia sangat penting bagiku. Aku harus menemukannya. Jadi, aku tidak punya waktu ikut ke kantor polisi denganmu. Setelah aku menemukannya, aku akan datang sendiri ke unitmu, saat itu kau boleh melakukan apa saja padaku!"
Suaranya dingin, tatapannya juga tajam menusuk. Ia menggigit bibir, mengucapkan kata-katanya satu per satu dengan tegas.
Di mata Chen Bing, Zhao Bing biasanya selalu santai dan suka bercanda, terkesan tidak serius.
Namun sekarang, Zhao Bing tiba-tiba berubah serius. Ia jadi tidak terbiasa. Pria ini seperti berubah menjadi orang lain, bahkan membuatnya merasakan ketakutan yang nyata. Tatapan Zhao Bing mengandung sesuatu yang menakutkan, sulit dijelaskan namun sangat terasa.
Sebagai polisi, Chen Bing merasa malu.
Bagaimana bisa ia gentar menghadapi seorang pelaku kejahatan?
“Kehilangan teman bukan alasan bagimu menghindari tanggung jawab. Kau bisa melapor, dan biar kami polisi yang membantu mencari. Tapi kau telah melanggar lalu lintas dan menyebabkan kecelakaan. Itu tanggung jawabmu. Ikutlah denganku ke kantor polisi, setelah itu baru kita bicarakan lagi,” Chen Bing mengeluarkan borgol, “Kau mau naik mobil sendiri, atau harus kuborgol?”
Tatapan Zhao Bing semakin dingin, “Aku benar-benar tidak punya waktu untuk ikut denganmu. Aku tak ada niat menyinggungmu. Jika dulu pernah, aku minta maaf. Tapi sekarang, aku sedang sangat terburu-buru.”
Chen Bing adalah polisi yang pernah beberapa kali bertemu Zhao Bing, bahkan secara tidak sengaja sempat bersentuhan fisik dengannya. Zhao Bing tentu tidak ingin bertindak kasar padanya—sebenarnya, dengan polisi manapun, ia tidak akan melakukannya.
Ia mencoba menjelaskan dengan sabar, namun hal itu justru membuat Chen Bing semakin marah.
Ngebut di tengah kota, menyebabkan kecelakaan, sekarang malah bilang tak punya waktu? Kalau tak punya waktu, boleh seenaknya sendiri? Selesai begitu saja?
Chen Bing geram, alisnya melengkung tajam, lalu tanpa ragu, ia menangkap pergelangan tangan Zhao Bing, dengan gerakan terampil hendak memborgolnya.
Zhao Bing kini hanya terpikir untuk mencari Qin Lin. Ia tidak punya waktu buang-buang di sini bersama polisi wanita ini. Melihat situasi tidak bisa diselesaikan baik-baik, ia pun tak sungkan lagi, dengan gerakan lebih cekatan balik menundukkan Chen Bing di pinggir jalan dan memborgolnya di pagar besi di samping.
"Maaf, aku sudah bilang temanku menghilang. Setelah kutemukan, aku akan datang ke kantor polisi untuk menyerahkan diri," ujar Zhao Bing dengan nada sedikit menyesal.
"Itu tindakan kriminal! Kau tahu akibatnya? Kau tahu apa resikonya melakukan ini? Aku akan mengeluarkan surat penangkapan untukmu! Kau telah menyerang polisi! Kau harus masuk penjara!" Chen Bing membalas dengan marah, menggertakkan gigi.
"Bisa diam sebentar?" Zhao Bing mulai kehilangan kesabaran, "Kadang aku benar-benar ingin membuatmu diam selamanya."
"Kau mengancamku?" Chen Bing mendengus dingin, "Kau tidak akan bisa lari!"
Zhao Bing perlahan mendekat, langkah demi langkah, matanya mulai memancarkan kebengisan.
Chen Bing langsung terdiam, jantungnya berdebar kencang. Zhao Bing di hadapannya tampak begitu buas, seperti keluar dari neraka, tubuhnya dipenuhi aura darah dan ancaman mematikan.
Ia benar-benar ketakutan. Dengan mata terbelalak, ia menatap Zhao Bing, suara gemetar, "Kau mau apa?"
Zhao Bing berhenti, menatap Chen Bing cukup lama, lalu tiba-tiba berbalik naik ke mobil, dan dalam sekejap melaju kencang pergi.
Chen Bing menghela napas lega. Seluruh pakaiannya basah oleh keringat, detak jantungnya perlahan berangsur normal, namun wajahnya tetap pucat pasi.
Zhao Bing tiba di vila sekitar pukul sepuluh malam.
Vila itu sunyi senyap. Lu Jia duduk tertidur di sofa, sepertinya sejak pagi belum beranjak sama sekali.
Ekspresinya terlihat sedih, alisnya berkerut, matanya bengkak memerah, mungkin ia sedang bermimpi buruk. Tangan kecilnya memeluk lutut, tubuhnya meringkuk di sudut sofa seperti anak rusa yang ketakutan.
Zhao Bing duduk di sofa, raut wajahnya makin dingin.
Jika sore tadi ia hanya curiga, kini ia yakin Qin Lin benar-benar tertimpa masalah.
Ponselnya sejak tadi tidak aktif, Zhao Bing sudah menelepon berkali-kali, mengemudi menuju tepi sungai, menelusuri sepanjang tanggul dua kali, tidak menemukan petunjuk apapun. Ia bahkan memanjat masuk ke tempat tinggal lama Qin Lin, tetap saja tak ada jejak yang menandakan ia pernah pulang.
“Bang Zhao…”
Entah sejak kapan Lu Jia terbangun, masih meringkuk di sudut sofa, ia bertanya pelan.
Zhao Bing hanya menunduk, di tangannya tergenggam sebuah foto, menatap foto rekan seperjuangannya, hatinya dipenuhi penyesalan.
“Kembalilah ke kamar, istirahatlah lebih awal,” ucap Zhao Bing pelan.
“Aku tidak bisa tidur…” Lu Jia mulai menangis, “Bagaimana dengan Linlin? Kau belum menemukannya?”
Zhao Bing menggeleng.
“Jangan-jangan sesuatu terjadi padanya. Aku sangat khawatir…”
“Tidak akan terjadi apa-apa.”
Sebelum segalanya jelas, Zhao Bing tidak akan berpikiran buruk. Ia yakin pasti bisa menemukan Qin Lin. Jika tidak, seumur hidupnya ia tak akan tenang.
Ia pernah berjanji pada Qin Zhan, akan menjaga Linlin sebaik mungkin.
Itu adalah sumpahnya.
Qin Zhan telah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Zhao Bing. Tentu saja ia akan menepati janjinya, apalagi mereka adalah saudara seperjuangan yang saling menjaga dalam hidup dan mati.
“Maafkan aku, andai saja aku tidak bertaruh dengannya, tidak membiarkan dia melihat foto itu, semua ini takkan terjadi. Ini semua salahku, aku terlalu keras kepala. Maaf, maaf, Bang Zhao, marahil kau memarahiku, kumohon…”
Zhao Bing menghela napas, “Ini bukan salahmu. Cepat atau lambat, ia pasti tahu kebenarannya. Hal seperti ini, tak mungkin selamanya disembunyikan.”
Lu Jia menggigit bibir, hatinya bingung namun tak berani bertanya lebih jauh.
Mereka berdua duduk sampai larut malam, baru akhirnya Zhao Bing memaksa Lu Jia masuk ke kamarnya untuk istirahat.
Berbaring di ranjang, Zhao Bing sama sekali tak bisa tidur, matanya memerah dipenuhi urat-urat, tampak begitu muram.
“Siapapun kalian, jika berani menyentuh Linlin, hanya ada satu akhir bagi kalian—mati!”
Zhao Bing mengambil ponsel, menelpon ke luar negeri, tak lama kemudian sambungan diangkat, terdengar suara pemuda di ujung sana.
“Wah, Kepala! Akhirnya kau mau juga menghubungi saudaramu. Cerita dong, berapa cewek lagi yang sudah kau buat patah hati—”
“Cukup!” Zhao Bing memotong dengan suara dingin.
Pihak sana terdiam sejenak, lalu bertanya hati-hati, “Kepala, ada apa? Kenapa kau marah sekali?”
“Segera pesan tiket pesawat ke Kota Tianhai, sekarang juga, ini sangat mendesak.” Menghadapi saudara seperjuangannya, Zhao Bing sama sekali tak berbasa-basi, langsung ke inti.
Mendengar nada bicara Zhao Bing yang tegas, orang di seberang pun langsung setuju, “Baik, aku langsung ke bandara.”
Setelah menutup telepon, Zhao Bing tetap tidak bisa tidur.
Malam itu terasa amat panjang bagi Zhao Bing. Akhirnya pagi tiba, tepat pukul delapan, Zhao Bing keluar dari vila, mengemudi menuju kantor kepolisian.
Semua orang di sana mengenalnya. Begitu ia masuk ke ruang tamu, Chen Bing dan Cui Zhigang segera menyusul.
“Kau benar-benar berani datang ke sini, bahkan sekarang pun menyerahkan diri sudah terlambat, berani-beraninya menyerang polisi, kau—”
“Aku bukan datang untuk menyerahkan diri.” Zhao Bing memotong ucapan Chen Bing, lalu meletakkan foto Qin Lin di atas meja dengan suara sedingin es, “Aku datang untuk melapor. Temanku ini sejak kemarin pagi keluar rumah lalu menghilang. Segera kerahkan tim khusus, usut kasus ini secepatnya, jika ada petunjuk penting, laporkan padaku secepatnya.”
Chen Bing tertegun.
Apa-apaan ini? Orang ini waras atau tidak? Bukannya menyerahkan diri malah datang memerintah seperti atasan, kira dia siapa?
Tak bisa menahan diri, Chen Bing mencibir, “Kau kira kau siapa? Hanya karena kau melapor, kami harus menurut semua perintahmu? Kami akan melakukan penyelidikan sesuai prosedur. Nanti aku sendiri yang akan menginterogasimu—”
“Kau kurang dengar?” Zhao Bing mengerutkan kening, sekali lagi memotong ucapan Chen Bing.
Chen Bing benar-benar marah.
Sungguh kurang ajar, dua kali memotong ucapanku, kira aku tidak berani berbuat sesuatu padamu?
“Diam kau!” seru Chen Bing dengan suara lantang, wajahnya memerah menahan marah, jarinya gemetar menunjuk ke arah Zhao Bing, “Kau yang sakit jiwa! Keluargamu juga! Apa hakmu memerintah kami?”
“Bagaimana dengan ini, cukup atau belum?” Zhao Bing melemparkan sebuah dokumen berwarna hijau ke atas meja, dengan nada sedikit bangga.
Chen Bing mendengus, meraih dokumen itu lalu memeriksa. Wajahnya langsung berubah drastis, “Ini dokumen siapa? Kenapa ada padamu? Jelas-jelas foto di sini bukan kau!”
Cui Zhigang pun memeriksa, wajahnya juga berubah kaget. Ia memberi isyarat pada Chen Bing, lalu berdeham, “Saudara, tolong perjelas soal ini. Apa dokumen ini asli? Kau tahu, memalsukan Kartu Identitas Perwira Pasukan Naga Hati adalah pelanggaran berat.”
“Kalian tahu itu, bagus. Dokumen ini seratus persen asli, hanya saja pemiliknya telah gugur beberapa tahun lalu. Ia sekarang adalah pahlawan bangsa. Kalau tidak percaya, silakan cek ke instansi terkait. Dan orang yang hilang itu adalah satu-satunya anggota keluarga yang tersisa, adiknya. Menurut kalian, sebagai pahlawan Pasukan Naga Hati yang sudah mengorbankan hidupnya untuk negara ini, satu-satunya keluarga yang tersisa, apakah tidak seharusnya kita melindunginya dengan segenap jiwa raga? Bagaimana menurut kalian?”