Bab 24: Taruhan
Halaman (1/3)
Begitu membuka mulut, Chi Yuesi langsung menjual An Ye, bahkan dengan cerdik membungkusnya agar terdengar lebih baik.
Mendengar cucu kesayangannya mengalami kemajuan dalam belajar, Tuan Tua Chi tidak marah karena Chi Yuesi memakan makanan dari luar. Namun, pandangannya sempat menyapu An Ye.
Tatapannya tampak agak rumit.
An Ye tentu saja menyadarinya.
Secara naluriah, An Ye merasa Tuan Tua Chi tidak menyukainya. Ia juga tidak sebodoh itu sampai sengaja mendekatkan diri.
Ia hanya berharap kemunculan Tuan Tua Chi yang tiba-tiba tidak akan mengacaukan rencana besarnya.
Tatapan An Ye menggelap, sementara pikirannya berputar dengan cepat.
Chi Yuesi tidak memahami seluk-beluk hubungan orang dewasa.
Ia membuka kemasan kue kecil itu, menusuk stroberi yang berada paling atas, lalu menyodorkannya ke mulut Tuan Tua Chi.
“ Kakek, makan ini!”
Chi Tuo berkata dengan wajah serius, “Chi Yuesi, makanan yang dibeli dari luar tidak bersih.”
Chi Yuesi tampak sedih. “Aku cuma ingin memberikan stroberi kesukaanku kepada Kakek…”
Melihat sikap Chi Tuo, An Ye tahu bahwa ia sebenarnya tidak marah karena perbuatan Chi Yuesi. Ia lebih menujukan kemarahannya kepada An Ye.
Tuan Tua Chi melambaikan tangan, memberi isyarat agar Chi Tuo tidak berkata apa-apa.
Kemudian ia mendekat kepada Chi Yuesi dan menggigit stroberi yang tertusuk garpu kecil itu.
Wajah Chi Yuesi yang semula tampak kasihan kembali dihiasi senyum.
Saat Chi Hanzhou pulang, ia kebetulan melihat pemandangan tersebut.
Melihat Chi Yuesi duduk sembarangan di pangkuan Tuan Tua Chi, ia menegur dengan wajah dingin, “Chi Yuesi, kaki Kakek sedang tidak sehat. Jangan bertingkah!”
Mungkin suara itu telah terpatri begitu dalam di benaknya.
Seluruh tubuh Chi Yuesi bergetar. Kotak kue kecil di tangannya hampir terjatuh ke tanah.
“Paman Keempat, dia memarahiku!”
Chi Yuesi melompat turun dengan kaki kecilnya, lalu berlari ke hadapan Chi Tuo untuk mengadu.
Meskipun terkadang Chi Tuo juga mendidik Chi Yuesi, ia tidak tega memukul ataupun memarahinya. Ia benar-benar menyayangi keponakan kecilnya itu.
Namun…
Tatapannya beralih ke wajah Tuan Tua Chi.
Wajah Tuan Tua Chi yang semula masih terlihat cukup baik mendadak berubah begitu Chi Hanzhou memasuki rumah.
Chi Tuo menepuk kepala Chi Yuesi, lalu mengusapnya beberapa kali.
Setelah itu, ia berkata kepada An Ye yang sejak tadi diam di samping mereka, “Guru An, apakah tugas Chi Yuesi hari ini sudah selesai?”
Halaman (1/3)
“Paman Keempat, aku sudah selesai!” sela Chi Yuesi dengan tidak puas.
Chi Tuo menundukkan pandangan kepada bocah kecil di hadapannya, lalu mengucapkan sesuatu yang langsung menghantam hati kecilnya.
“Kalau begitu, merepotkan Guru An untuk memberinya tugas tambahan.”
Wajah Chi Yuesi langsung dipenuhi keengganan.
Ia masih hendak mengatakan sesuatu, tetapi detik berikutnya tangannya telah digenggam An Ye.
Perlawanan tidak berguna. Chi Yuesi hanya bisa menurut dan pergi bersama An Ye.
Dalam sekejap, suasana di taman menjadi begitu mencekam, seolah-olah merupakan pertanda sebelum badai turun, sampai-sampai hampir membuat orang sulit bernapas.
Tatapan tajam Tuan Tua Chi menyapu Chi Tuo dan Chi Hanzhou.
Pada akhirnya, pandangannya berhenti pada Chi Hanzhou. Ia menghentakkan tongkatnya dua kali ke tanah berumput.
“Kau ini, setiap hari hanya tahu bekerja. Tidak bisakah meluangkan sedikit waktu untuk menemani anakmu?”
Chi Hanzhou duduk di kursi kayu murni di sampingnya.
Mendengar itu, ia memijat pangkal hidungnya yang terasa nyeri.
“Ayah.” Ia menghela napas. “Ayah tahu sendiri, urusan di perusahaan sangat banyak…”
“Kau hanya pandai berbicara. Kalau memang punya niat, tentu kau bisa meluangkan waktu untuk menemani anakmu. Menurutku, kau memang tidak punya niat itu!”
Tuan Tua Chi membanting tongkatnya ke lantai. Nada suaranya terdengar jauh lebih berat daripada sebelumnya.
“Di matamu, pekerjaan jauh lebih penting daripada anakmu. Selama bertahun-tahun, perhatianmu kepadanya bahkan tidak sampai separuh dari perhatian Paman Keempatnya!”
Setelah berhenti sejenak, Tuan Tua Chi kembali melanjutkan.
“Sesibuk apa pun, kau tetap harus memperhatikan anakmu. Keturunan keluarga Chi tidak boleh tumbuh menjadi orang tidak berguna yang hanya tahu bersenang-senang!”
“Aku hanya memiliki satu cucu, yaitu Yuesi. Semua harapanku kutaruh padanya. Kalau sampai kau membesarkannya menjadi anak gagal, bagaimana orang luar akan memandang keluarga Chi? Aku tidak sanggup menanggung malu itu!”
Chi Hanzhou tidak berani membantah Tuan Tua Chi. Ia hanya bisa mengangguk dan menyetujui setiap perkataannya.
“Ayah, aku memahami semua yang Ayah katakan. Yuesi adalah satu-satunya putraku. Dalam hal pendidikannya, tentu aku lebih mencurahkan perhatian daripada siapa pun.”
“Bagus kalau kau tahu. Jangan hanya pandai bicara, lalu pada akhirnya menyerahkan anakmu kepada paman keempatnya!”
Saat mengatakan itu, Tuan Tua Chi melirik Chi Tuo.
“Sebagus apa pun A Tuo, dia tetap hanya paman keempat Yuesi. Sebanyak apa pun yang bisa ia berikan, tetap tidak sebanding denganmu sebagai ayah kandungnya!”
Perkataan itu sekaligus menjadi peringatan bagi Chi Hanzhou dan Chi Tuo.
“Dan An Ye itu—tingkah lakunya sembrono. Bagaimana orang seperti itu pantas menjadi guru privat di keluarga Chi?”
Kedua alis Tuan Tua Chi berkerut dalam. Ia berkata dengan suara berat, “Menurutku, sebaiknya kita mencari orang lain.”
Halaman (2/3)
Mendengar itu, Chi Tuo mengangkat pandangan ke arah Tuan Tua Chi.
Setelah ragu selama beberapa detik, ia berkata, “Awalnya Chi Yuesi sendiri yang menunjuk An Ye sebagai guru privatnya. Aku juga pernah meragukan kemampuan kerjanya. Untuk mencegah masalah yang tidak perlu, Guru An sudah berjanji kepadaku bahwa jika nilai Chi Yuesi tidak memenuhi standar, ia akan mengajukan pengunduran diri.”
Chi Tuo menceritakan taruhan antara An Ye dan dirinya sebelumnya.
Setelah mendengarnya, Tuan Tua Chi merenung cukup lama sebelum berkata, “Hanzhou, bagaimana menurutmu?”
Chi Hanzhou tidak memiliki perasaan khusus terhadap guru privat yang baru datang itu.
Jika perempuan itu benar-benar mampu mendidik Chi Yuesi dengan baik, baginya hal tersebut hanya akan membawa keuntungan tanpa kerugian.
Ia mempertahankan An Ye lebih karena ingin melihat bagaimana adik keempatnya, Chi Tuo, akan menghadapinya.
Dulu begitu, dan sekarang pun demikian.
“Sejak awal masalah ini sudah kuserahkan kepada Adik Keempat. Kalau menurutnya Guru An baik, berarti dia memang baik. Aku percaya pada penilaiannya.”
“Benarkah?” Tuan Tua Chi tampak ragu. “Entah kenapa aku selalu merasa ada yang tidak beres. Kalau Guru An itu menyimpan niat tersembunyi, bagaimana jika Yuesi sampai terpengaruh olehnya?”
“Ayah, Ayah terlalu banyak berpikir. Meskipun Yuesi keras kepala dan sulit diatur, darahnya tetap mewarisi sifat Ayah. Dia bukan anak yang mudah disesatkan hanya oleh seorang perempuan!”
Setelah berkata demikian, Chi Hanzhou melirik Chi Tuo yang berada di sampingnya.
Melihat adik keempatnya itu bahkan tidak membela perempuan tersebut sedikit pun, ia mau tak mau merasa curiga.
Jangan-jangan Chi Tuo memang sama sekali tidak peduli?
“Itu memang benar. Yuesi anak yang cerdas, sekali lihat saja sudah jelas bahwa dia keturunan keluarga Chi!”
“Karena Guru An sendiri yang mengajukan taruhan, tidak ada salahnya kita duduk dan melihat apakah dia benar-benar mampu mendidik Yuesi dengan baik. Kalau ternyata pendidikannya gagal, kita masih belum terlambat untuk memecatnya.”
Setelah Chi Hanzhou selesai berbicara, raut wajah Tuan Tua Chi akhirnya sedikit melunak.
“Kalau begitu, biarkan dia tinggal untuk sementara. Namun, kalau dia berani bertindak macam-macam, aku juga tidak akan menunjukkan belas kasihan!”
Setelah berkata demikian, Tuan Tua Chi berdiri dan bersiap kembali ke kamarnya. Paman Hu yang sejak tadi diam segera maju untuk menopangnya.
Keduanya masuk ke aula tanpa menoleh lagi. Sosok mereka segera menghilang dari pandangan Chi Hanzhou dan yang lainnya.
Begitu Tuan Tua Chi pergi, tekanan yang menyelimuti Chi Hanzhou seketika lenyap.
Ia mengusap pangkal hidungnya, lalu akhirnya memiliki waktu untuk berbicara dengan Chi Tuo di sampingnya.
“Menurutmu, mengapa Ayah tiba-tiba pulang ke dalam negeri?”
Halaman (3/3)